Pidoto – Bencana Lumpur Sidoarjo

Indonesia

Written by:

Views: 146

One of my friends told me I needed to post a ranty speech I gave in my Indonesian class about the Sidoarjo mudflow disaster on my blog… given that I had the privilege to pull apart the grammar and writing of my colleagues in Jakarta, who am I to deny them the pleasure of deconstructing my dodgy Indonesian turns of phrase?

If you don’t speak Indonesian, move on. Nothing to see here.

If you do speak Indonesian, you might want to look away anyway! (temanku, silahkan memperbaiki!)

Saudara-saudara,

Hari ini, saya akan  berbicara tentang bencana lumpur Sidoarjo. Walaupun bencana ini pertama terjadi pada tahun dua ribu enam, korbannya masih menunggu untuk solusi dan kompensasi.

Dulu, saya akan menjelaskan sedikit bagian dari sejarah hal ini. Lalu, saya akan berbicara tentang pengalaman saya pada saat saya mengunjungi situs bencana tersebut.

Bencana ini mulai dalam kecamatan Porong, dalam Sidoarjo, yang dekat ke Surabaya di Jawa Timur.  Lumpur mulai memuntahkan dari tanah di daerah itu pada bulan Mei tahun dua ribu enam. Sejak waktu itu, ahli percaya kira-kira tujuh puluh ribu meter kubik lumpur dikeluarkan dari tanah setiap hari.

Ilmuwan dan politisi tidak tahu kapan atau bagaimana lumpur akan hentikan. Mereka belum bisa memberikan jawaban untuk penduduk Porong dan ini masih menciptakan stres untuk orang di sana.

Penyebab lumpur panas Sidoarjo, juga dinamai “Lusi”, masih menjadi subyek kontroversi. Menyalahkan untuk bencana ditempatkan pada perusahaan pengeboran minyak dan gas PT Lapindo Brantas. Mereka sudah sering menolak bahwa pengeboran mereka menyebabkan gunung lumpur, meskipun mereka sepakat untuk berkontribusi kompensasi korban. Namun, ahli geologi dan ilmuwan lain telah menghasilkan banyak laporan yang menyatakan bahwa pengeboran di daerah itu, yang dilakukan tanpa proses keselamatan yang tepat, adalah penyebab paling mungkin untuk bencana.

Lusi adalah isu panas dalam bidang politik juga, karena PT Lapindo Brantas dimilik oleh Bakrie Group. Perusahan itu pemilik bagian enam puluh persen PT Lapindo Brantas dan, pada waktu bencana ini terjadi, Aburizal Bakrie diadakan posisi dalam pemerintah RI, mungkin ironisnya, sebagai Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat.

Sekarang ini, tanah di bawah lumpur adalah runtuh karena beratnya. Pemerintah dan orang lokal ada kekhwatiran keras karena dampak pada masa depan masih tidak diketahui. Selain itu, baru-baru ini, gelembung baru mulai mengusir lumpur di luar tanggul, dekat ke jalanan penting dan stasiun kereta api.

Saya mengunjungi Porong dan lumpur Sidoarjo satu tahun yang lalu, kira-kira empat tahun setelah aliran lumpur mulai. Orang di Porong mengatakan cerita mereka kepada saya dan berbagi perasaan  mereka bahwa masalah mereka sudah dilupakan oleh pemerintah dan Lapindo.

Selama saya di Porong, saya naik ojek untuk wisata seluruh situs bencana. Pengalaman ini menyedihkan dan sulit untuk saya karena saya tidak bisa mengerti bagaimana perusahan Bakrie belum lengkapi membayar kompensasi kepada korbannya. Orang Porong sudah menghadapi kekerasan karena bencana, lalu mereka harus menunggu lama-lama untuk jawaban dan kompensasi untuk rumah mereka. Tambahan, kebanyakan orang di sana hidup tanpa perkerjaan permanen sejak bencana karena banyak pabrik dan industri di Porong tutup setelah lumpur membanjiri empat belas desa.

Di daerah sekitar lumpur, cuaca panas sekali karena lumpur vulkanik dan karena tidak ada pohon atau padi dan tanaman. Angin berdebu menyebabkan saya batuk dan angin juga ada bau kimia. Lumpur menempati wilayah yang luas, sejauh mata saya bisa melihat.

Pemandu saya, Pak Samsul Adidin, mengatakan anak yang tinggal dekat lumpur sering menjadi sakit dari gas.

Dia tambahkan istri dia tidak mengizinkan anak mereka mengunjungi daerah lumpur, karena gas ini… yang banyak orang Porong rasa mungkin racun.

Walaupun begitu, orang masih tinggal di desa yang dekat sekali ke dinding tanggul. Beberapa orang yang kehilangan rumah mereka karena lumpur, orang pengungsi internal, tinggal di gubuk bambu sementara di jalanan yang dihancurkan oleh lumpur. Keadaan mereka mengerikan dan mereka tinggal dalam kemiskinan tanpa air bersih, listrik atau bantuan dari pemerintah atau Bakrie.

Meskipun demikian, kekerasan dihadapi oleh mereka yang mungkin paling tragis adalah ketidakpastian konstan. Sementara lumpur berlanjut, orang yang tinggal dekat dinding tanggul khwatir setiap hari kalau dinding cukup kuat dan heran jika mereka akan mendapatkan lengkap kompensasi.

Selama waktu saya di Indonesia, saya mengunjungi sejumlah tempat bencana, misalnya Banda Aceh, Pangandaran, Bukit Lawang, dan lain-lain. Namun, lumpur Sidoarjo mungkin keadaannya yang menjadikan saya paling marah. Bencana lain tersebut menyedihkan sekali, tetapi bencana lain itu tidak disebabkan oleh kesalahan manusia. Kita tidak bisa menghentikan bencana alam, namun, kalau bencana terjadi karena kesalahan oleh perusahan atau pemerintah, mereka yang menyebabkan masalah memiliki tanggung jawab kepada korban. Di Sidoarjo, korban masih menunggu dan setiap tahun, sementara mereka menunggu, lebih dan lebih orang Indonesia dan orang asing lupakan penderitaan mereka. Menurut saya, ini ketidakadilan.

Terima kasih perhatian Anda.

2 Responses to " Pidoto – Bencana Lumpur Sidoarjo "

  1. Lakoné says:

    This condition have been forgotten in Indonesia, because my government is not a multitasker, they do one thing and most of the time switching to another task before finished their previous jobs.

    Corruption is their latest drama, its invading all over the news.

    Terima kasih atas kepedulian Anda.

  2. Esther says:

    I’ve got to say that your Indonesian is impressive. I’m an Indonesian grammar freak (no wonder my former Indonesian Studies students hate me) and I hardly tolerate spelling mistakes in Indonesian but your writing is excellent. Your Indonesian is not too dodgy for a foreigner. Now had my former Indonesian students made that mistake, I would have… No point of finishing that sentence.

    Anyway, I love your speech. I hope something comes of it.